Lomba Buwat Blogg
Tertarik MuDA Creativity Kompas? Ini Syarat-syaratnya!
Jumat, 4 Desember 2009 | 14:11 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Kompetisi MuDA Creativity Kompas kembali digelar. Mulai lomba penulisan, fotografi, membuat komik, sampai bikin lagu dan komik. Ini syarat-syaratnya!
Persyaratan Umum
1 Pelajar SLTA-mahasiswa, usia 15-22 tahun, kecuali pada Kompetisi Menulis hanya untuk pelajar SLTA.
2 Sertakan data nama, tempat dan tanggal lahir, alamat, asal sekolah, nomor telepon, serta fotokopi kartu identitas.
3 Karya tak akan digunakan panitia tanpa izin pengirim.
4 Karya yang dikirim tidak akan dikembalikan.
5Jumlah karya yang dikirimkan tak dibatasi, kecuali pada Kompetisi Menulis hanya satu karya.
6 Karya yang dikirim orisinal, belum pernah dipublikasikan, bukan karya orang lain, bukan jiplakan, bukan hasil copy-paste karya orang lain.
Tema
Semua karya harus bertema: Bangga Indonesia!
Pengiriman Karya
Karya dikirimkan ke: Marketing Communication Kompas Gedung Kompas Gramedia Lt 2 Jalan Palmerah Selatan 26-28, Jakarta, 10270. Semua karya dikirim via pos, kecuali Kompetisi Web/Blog, yang harus dikirimkan via email
Batas Waktu
Karya diterima paling lambat 17 Februari 2010 pukul 23.00 WIB
Hadiah Tiap Kompetisi
Juara I: Uang Tunai Rp 3.000.000 Plus Hadiah Menarik
Juara II: Uang Tunai Rp 2.000.000 Plus Hadiah Menarik
Juara III: Uang Tunai Rp 1.000.000 Plus Hadiah Menarik
Persyaratan per kompetisi
Foto
- Foto dikirim dalam bentuk hasil cetak dengan sisi panjang minimal 24-30 cm.
- Cantumkan kode FOTO MuDA pada amplop luar.
- Editing diperbolehkan sebatas editing dasar, yaitu crop, saturation, brightness, contrast, dan level.
- Di bagian belakang foto, tempelkan data berisi: nama, alamat, judul foto, keterangan foto, tempat/tanggal lahir, sekolah/kuliah, no telp/HP.
Menulis
- Khusus tingkat SLTA, boleh tim atau perseorangan.
- Panjang tulisan maksimal 6.000 karakter (termasuk spasi).
- Gaya penulisan menekankan pada cara penulisan seperti di Kompas MuDA yang santai dan mengalir.
- Cantumkan kode PENULIS MuDA pada amplop luar.
- Maksimal hanya bisa mengirimkan satu tulisan.
Penulisan di Web/Blog
- Web/blog milik pribadi atau milik institusi SLTA atau web/blog untuk komunitas anak muda.
- Bisa perseorangan atau tim.
- Bisa menggunakan top level domain sendiri atau subdomain, atau memanfaatkan fasilitas blog gratisan.
- Web/blog harus memuat minimal satu halaman tulisan dengan tema Bangga Indonesia!, minimal 3.000 karakter (termasuk spasi).
- Di halaman tulisan itu, sertakan kata kunci: Kompetisi Website Kompas MuDA-KFC yang bisa terbaca secara mudah. Cantumkan juga tautan balik (backlink) ke www.mudaers.com (sebuah link ketika diklik mengarah ke www.mudaers.com)
- Penilaian meliputi kualitas tulisan, desain, dan tingkat popularitas serta peringkat web di Google. Juri akan menggunakan Google.co.id untuk mengecek peringkat web kamu dengan kata kunci: Kompetisi Website Kompas MuDA-KFC.
- Boleh memanfaatkan web/blog lama yang sudah ada atau bisa membuat web/blog baru.
- Kirimkan alamat web/blog kamu ke email: lombaweb@ mudaers.com. Di e-mail itu, cantumkan nama kamu, tempat/tanggal lahir, alamat, nama sekolah/kuliah, nomor telepon, dan scan (bisa juga difoto) kartu identitas. Judul atau subyek email adalah alamat web/blog kamu.
MuDA Musikustix
- Format: band atau solo.
- Genre musik bebas.
- Lagu ciptaan sendiri dan belum pernah dipublikasikan.
- Tidak terikat dengan perusahaan rekaman.
- Cantumkan kode MuDA Musikustix di luar amplop.
- Karya berupa CD/DVD, bisa audio saja atau video + audio, dikirim dalam format digital yang mudah dibuka dewan juri.
- Lampirkan profil/biografi, foto kamu, dan judul lagu lengkap dengan teks lirik, sertakan fotokopi kartu identitas.
Kompetisi Komik
- Format hitam-putih atau berwarna, dibuat manual atau komputer.
- Ukuran kertas A3 (30 x 40 cm), cerita habis dalam satu halaman.
- Di belakang tiap karya kamu, tempelkan data berisi: nama, alamat, judul karya, tempat/tanggal lahir, sekolah/kuliah, nomor telepon
| Tanggapan: |
Lelaki dan Air Mata
Airmata hanya bisa keluar dari kehalusan perasaan ketika bersentuhan dengan hal-hal yang mengusik hati nurani kita. Tangis dan airmata tidak lantas identik dengan wanita. Namun demikian, bukan berarti lelaki itu makhluk yang tidak punya perasaan, cuma kadarnya saja yang berbeda. Yang jelas, secara umum laki-laki itu lebih "miskin" perasaannya dari pada wanita.
Lelaki yang gampang menangis juga bukan lelaki banci, dan tentu saja predikat ini sungguh sangat merendahkan derajat dan martabatnya serta sangat menyinggung harga dirinya sebagai makhluk yang (maaf) superior, sehingga menangis adalah hal yang tabu dan pantangan bagi laki-laki. Maka, sebagai laki-laki harus tahan dalam situasi apapun, jangan sampai ada butir-butir bening yang menetes dikedua pipinya, apalagi sampai dilihat orang lain. Kurang proporsionalnya laki-laki dalam memandang tangis dan airmata ini pada akhirnya akan menjadikan kaum lelaki bertambah "miskin" kehidupan emosionalnya. Sehingga sosok yang tampak adalah sosok yang kaku, penuh dengan perhitungan-perhitungan, matematis dan jauh dari sosok yang lembut hati.
Lelaki boleh menangis dan tetesan air matanya bukan sesuatu hal yang tabu untuk disaksikan, selama tangisannya bukan karena kecengengan, tapi menunjukkan betapa halus dan lembutnya persaan yang ia miliki. Kehalusan dan kelembutan perasaan ini, sama sekali tidak akan mengurangi sosok pribadi yang tegar dan tegas, tapi justru akan menjadian ia sebagai sosok pribadi yang ideal untuk dijadikan teladan bagi orang lain. Sebab kehalusan dan kelembutan perasaan akan menghasilkan sikap sabar, sedangkan ketegaran dan ketegasan akan menghasilkan sifat benar, sementara sabar dan benar adalah dua pilar yang harus dimiliki oleh laki-laki yang ingin sukses menjalankan fungsi ke-qowam-annya.
Memupuk sikap benar dengan mengenyampingkan sifat sabar, menyebabkan sayap' ke-qowam-an menjadi tidak seimbang. Mengasuh kehalusan, kelembutan, dan kepekaan rasa, sebenarnya bukan hanya untuk kaum wanita, sebab dalam batas yang proposional menjadi hal yang harus dimiliki juga oleh laki-laki. Misalnya dalam hal kewajibannya mendidik wanita yang menjadi istrinya, maka mau tidak mau dia harus menyelami kehidupan emosional dan karekteristik perasaan istrinya, sehingga dia akan mampu 'mengendalikan' istrinya itu. apalagi bila istrinya itu memiliki karekteristik yang khas dan sedikit 'rumit', tentu saja ini semua membutuhkan kepekaan rasa.
Demikian juga tangis dan air mata, bukan hanya milik wanita, tapi juga milik laki-laki. Maka, jangan simpan tangismu wahai lelaki, bila ada sesuatu yang membuat kau ingin menangis, sebab tangis tidak selamanya identik dengan kecengengan kalau itu benar keluar dari kehalusan dan kelembutan rasa. sementara kehalusan dan kelembutan rasa bukan hanya milik kaum wanita, tapi juga milik lelaki, sebab adalah sesuatu yang universal, setiap orang pasti punya meski dengan kadar yang bebeda.
Wallahu A'lam bisshawab.
| Tanggapan: |
Kisah Pohon Apple
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.
Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya." Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu." Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.
Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel. "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?" "Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.
Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi deganku," kata pohon apel. "Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah dewasa dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?" "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah." Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.
Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu." "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel. "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu. "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu." "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.
Ini adalah cerita tentang kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita masih kecil, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di
| Tanggapan: |











